KB-17-Sekolah Ramah Anak --- Sekretaris DP2KBP3A Theresia Membuka Sosialiasi dan Advokasi Sekolah Ramah Anak
SENDAWAR – Semua sekolah wajib menjadi sekolah ramah anak. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Theresia, pada pembukaan Sosialisasi dan Advokasi Sekolah Ramah Anak (SRA), yang dilaksanakan di ruang pertemuan DP2KBP3A, Jumat beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Theresia menuturkan, sosialisasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa SRA adalah bagian penting dan tidak terpisahkan dalam Perkembangan Kabupaten Kubar menuju Kabupaten yang Layak Anak. Kegiatan sosialisasi tersebut juga menghadirkan langsung narasumber Adenany dari DKP3A Provinsi Kaltim, dan Sumadi selaku Fasilitator Kabupaten Layak Anak (KLA) Provinsi. Adapun peserta sosialisasi berasal dari sekolah-sekolah percontohan.
Theresia juga memaparkan dalam usaha mewujudkan SRA perlu didukung oleh berbagai pihak antara lain keluarga dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak. “Lingkungan yang mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri. Kebiasaan anak memiliki kencenderungan meniru, mencoba dan mencari pengakuan akan eksistensinya pada lingkungan tempat mereka tinggal,” kata Theresia.
Selanjutnya, Kepala Dinas Pendidikan Kubar Silvanus Ngampun menuturkan, untuk awal ini Disdik bersama DP2KBP3A menunjuk 10 sekolah sebagai percontohan SRA. Menurutnya, sebetulnya semua sekolah di Kubar harus ramah anak.
SRA ini sejalan dengan program Menteri Pendidikan yakni memerdekan belajar, dimana siswa dan guru betul-betul merasa nyaman belajar serta mengajar di sekolah. Tidak ada siswa yang saling pukul, termasuk guru tidak boleh menyakiti muridnya atau memaki dengan kata-kata kasar.
“Saat ini banyak kita dengar kasus murid/siswa berani memukul gurunya, itu semua karena karakter yang buruk. Ooleh karena itu dengan sekolah ramah anak ini kita harapkan mampu memperbaiki karakter murud-murid. Selanjutnya pendidikan karakter mulai 2020 harus betul-betul dijalankan disemua sekolah. Hal ini tentu sejalan dengan program SRA,” terang Kadisdik.
“Kita harapkan kedepan tidak ada lagi guru-guru kiler di sekolah. Bagaimana siswa bisa menerima pelajaran yang disampaikan jika sejak awal sudah merasa ketakutan. Oleh sebab itu perlu diciptakan suasana belajar yang nyaman, ramah sehingga suasana belajar di sekolah menjadi nyaman,” tegas Silvanus.
Sekolah yang ditunjuk menjadi percontohan SRA diharapkan bisa menjalin hubungan komunikasi dan kerja sama yang baik dengan para orang tua, karena sekolah tidak akan mampu menciptakan sekolah ramah anak tanpa dibantu oleh masyarakat dan pemerintah.
Kepala SDK Barong Tongkok Drs Colvinus menanggapi program sekolah ramah anak, pihaknya sudah mempersiapakan diri sejak jauh-jauh hari. Namun belum ada pemahaman yang lebih mendalam terkait SRA sehingga dengan adanya sosialiasi dan advokasi ini pihaknya bisa semakin memahami SRA.
Secara khusus Colvinus juga berharap adanya kerjasama, karena suksesnya program SRA tentu tidak bisa dilakukan oleh sekolah sendiri. Diperlukan kerjasama Dinas Pendidikan, serta dukungan dari para orang tua. Karena penerapan harus dimulai dari keluarga yang ramah anak, baru program di sekolah bisa berhasil. Sekali lagi dukungan dari orang tua dan pemerintah sangat penting, katanya. (hms10-hkd)
10 Sekolah direkomendasikan untuk menjadi SRA.
· TK Pembina Melak
· TK Angela Marici
· SD Khatolik Barong Tongkok
· SDN 001 Busur
· SDN 002 Simpang Raya
· SDN 10 Bongan
· SMPK Barong Tongkok
· SMPN 01 Sendawar
· SMPN 02 Sendawar
· SMPN 03 Sekolaq Darat